Monday, December 14, 2009

Lingkaran Aku Cinta Padamu

Posted by budakdigital

Kini kami berkumpul
Esok kami berpencar

Berbicara tentang kehidupan
Berbicara tentang kebudayaan
Berbicara tentang ombak lautan
Berbicara tentang bintang di langit
Kami berbicara tentang Tuhan
Berbicara tentang kesejatian
Tentang apa saja

Malam boleh berlalu
Gelap boleh menghadang

Disini kami tetap berdiri
Disini kami tetap berpikir
Disini kami tetap berjaga
Disini kami tetap waspada
Disini kami membuka mata
Disini kami selalu mencari
Kesejatian diri

Alang alang bergerak
Mata kami berputar

Seperti elang kami melayang
Seperti air kami mengalir
Seperti mentari kami berputar
Seperti gunung kami merenung
Di lingkaran kami berpandangan
Di lingkaran kami mengucapkan

Aku cinta padamu
Aku cinta padamu
Aku cinta padamu
Aku cinta padamu

[Iwan Fals]

Tuesday, October 6, 2009

02.35

Posted by budakdigital

empat baris pesan yg kau kirim lima jam yang lalu kini kmbali mengacaukan nafasku...bersama dua ekor belatung sisa'' peradapan masa silam...pada kabut pagi dingin dan basah...menghadang angin aku berlari berkejaran dgn kilobyte... seperti udara kisahmu akan terlelap bersama gelap yang merajai kerajaan malam...

Wednesday, July 22, 2009

LISTEN TO THE SOUL

Posted by budakdigital


model : litha

Tuesday, July 21, 2009

HEGEMONI

Posted by budakdigital


terimakasih untuk bapak" dan ibu" di pasar beringharjo jogjakarta

Friday, June 26, 2009

PAMERAN SENI RUPA RAI GEDHEG

Posted by budakdigital

Pameran senirupa rai gedheg bentara budaya yogyakarta 23 juni - 3 juli 2009...stelah ini akan berlangsung pula di bentara budaya jakarta 21 - 30 Juli 2009...Perpustakaan umum dan arsip kota Malang..Orasis Gallery Surabaya..Pameran ini dikuratori oleh Ong Hari Wahyu

para perupa yg mengikuti pameran ini :
AC Andre Tanama, Adi Gunawan, Agapetus Kristiadana, Alex Luthfi, Ariswan Adhitama, Bambang Heras, Bayu Wardhana, Butet Kartaredjasa, Djoko Pekik, Dona Prawita Arissuta, Entang Wiharso, F. Sigit Santoso, Hadi Soesanto, Hanafi, Hedi Haryanto, Hermanu, Hedi, Haryanto, Hermanu, I Made Arya Palguna, Ipong Purnamasidhi, I Wayan Kun Adnyana, Jefri, Guciano, Nasirun, Noor Ibrahim, Nurkholis, Samuel Indratama, Suatmaji, Teguh Ostenrik, Yerry Padang, Yuswantoro Adi
Komunitas Nitiprayan HITAM MANIS
[I Wayan Agus Novianto, I Nyoman Adiana,
Nyoman Agus Wijaya, Maslihar aka Panjul,
Putu Suta Wijaya, Robet Kan, Yoyok Sahaja]

Monday, June 1, 2009

THE RATS REPUBLIC SEQUEL # 2

Posted by budakdigital

BATAS CAHAYA

Posted by budakdigital

demi malam yang masuk ke sel darahku
mengurai batas cahaya
aku belum selesai bermimpi
belum selasai
Saat hanya ada kata dalam tulisan
Saat rindu mewakilkan kehadiran
Sepenggal marah yang kau uraikan
Segelas emosi yang kau suguhkan
Mengajariku untuk memahami dirimu
maukah kau sekali lagi memamerkan
seringai wajahmu yg lucu itu

Monday, May 18, 2009

SEONGGOK KILOBYTE

Posted by budakdigital


ketika kerja keras....mata merah....pengorbana berdarah darah[digigit nyamuk] sama sekali tak berguna [disain gak di acc]

Tuesday, March 17, 2009

TRANSFORMERS 2 [REVENGE OF THE FALLEN]

Posted by budakdigital



yeah...transformers 2 revenge of the fallen...
masih lama bung tanggal rilisnya....di amrik aja tgl 24 juni 09...kapan mpe sini......sabar...sabar...sabar....


Tuesday, February 10, 2009

MEREKA MENGEPUNG JUGA MENERORKU

Posted by budakdigital

Matahari sebentar lagi akan bersandar pada sekelebat jingga ketika mulai kututup pintu ruangan ini. Setelah seharian dihajar deadline, ingin rasanya sejenak melepas penat, menyusuri sudut-sudut jogja, menyinggahi suatu tempat kemudian menyeruput secangkir kopi sambil menikmati langit bermahkota jingga.

Namun Harapan itu rasanya harus sirna, sore itu sang senja tampaknya engan bersolek langit tampak kelabu, jalanan semakin riuh oleh berbagai macam kendaraan yang berlalu-lalang tak ada habisnya...tak tau dari mana mereka smua berasal...jalanan terasa smakin sempit, mungkin karena kapasitas jalan di jogja sudah overload menampung laju pertumbuhan kendaraan yang semakin bertambah...hhmmmm entahlah.....

Suasana menjadi semakin mengerikan dan menyebalkan ketika sejauh mata memandang tiap sudut disesaki berbagai macam poster, spanduk dan baliho para caleg. pencitraan diri para calon anggota legislatif dengan memajang wajah monoton....entah bagaimana wajah-wajah itu nampak serupa belaka...mereka memasang senyum manis, raut muka yang tampak bijak bestari, sorot mata penuh percaya diri, jika laki-laki mereka memakai dasi necis...mngkin mereka kira dasi dapat menyimbolkan sebuah martabat...kemapanan...juga tingkat intelektual seseorang...sungguh bodoh.....warisan style pakaian jaman batu masih mereka banggakan, dan agar lebih meyakinkan namanya di cetak besar-besar dan dilengkapi gelar haji dan tentu saja title berderet....ckckckck...

berapa kali yah...mereka bergaya di depan kamera untuk mencari pose terbaik kemudian pastinya di retauch kembali dengan software grafis. Namun sayangnya foto diri para caleg itu tetap menampilkan pose yang monoton mencerminkan semiotika wajah yang miskin kreatifitas. Namun mereka dengan gagah berani mencitrakan diri sebagai sosok pejuang pemersatu bangsa, intelektual handal, pemimpin yang saleh penuh perhatiann kepada rakyat...namun apakah kita peduli dengan mereka sodara-sodara.....

atau sejatinya mereka adalah makhluk-makhluk narsis belaka... mereka tergila-gila memuji juga menilai diri sendiri melampaui realitas yang sebenarnya.

Atribut kampanye dengan desain amburadul, menyedihkan dan menjijikkan itu tak hanya di tempatkan di jalan umum yang ramai, tetapi juga memasuki sudut-sudut gang, parahnya gambar-gambar itu di tempatkan begitu saja di tembok terbuka, di tancap di batang pohon atau di beberkan di depan rumah tanpa memperhatikan etika juga estetika. Maka yang terjadi...poster, baliho dan spanduk caleg itu menjadi sampah visual yang mengurangi keindahan tata ruang kota dan tentu saja tetap meneror kita dengan jargon dan janji manis...apakah kita akan memilih mereka.... go to hell....

Wednesday, January 28, 2009

MATINYA MASA DEPAN

Posted by budakdigital


Masa depan sebuah bangsa salah satu aspek penentunya adalah generasi yang cerdas yang juga tidak melupakan akar budaya serta nilai-nilai kepribadian bangsanya. Dan pendidikan adalah sistem yang tidak terbantahkan untuk membuka gerbang gemilang hari depan. Sebagai salah satu faktor penentu kualitas generasi sebuah bangsa.

Namun ketika sistem itu telah dirasuki dan diporak-porandakan oleh berbagai kepentingan kapitalis, maka yang terjadi adalah adanya komersialisasi. Pendidikan telah dijadikan komoditas, kekhawatiran ini dipicu oleh kebijakan pemerintah dalam Rancangan Undang-Undang Badan Hukum dan Pendidikan dan Peraturan Perundang-Undangan Nomor 76 dan 77 tahun 2007 tentang penanaman modal asing dalam bidang pendidikan. Yang mencantumkan pendidikan sebagai bidang usaha terbuka dengan persyaratan yang membuka peluang modal asing untuk masuk, didalam peraturan tersebut disebutkan bahwa pendidikan tinggi dan pendidikan non formal sebagai bidang usaha dapat dimasuki modal asing dengan batas kepemilikan maksimal 49%.

Peraturan ini jelas mengindikasikan bahwa pemerintah telah memposisikan pendidikan sebagai komoditas, padahal persoalan pendidikan bukan sebatas hitungan untung rugi, didalamnya terkandung visi dan misi ideologi bangsa.

Kemudian hal yang mungkin terjadi ketika pendidikan sudah dijadikan lahan bisnis ketika terjadi perhitungan untung rugi adalah adanya pendidikan yang mahal, dimana hanya orang-orang berada saja yang mampu mengecap pendidikan yang layak. Sebaliknya banyak anak-anak bangsa tidak bisa memasuki gerbang masa depan hanya karena keterbatasan sosial dan ekonomi mereka. Sungguh ironis…namun hal demikianlah yang telah terjadi direpublik tercintai.

Kalau kepemilikan modal asing sampai ditingkat pendidikan dasar, siapa yang akan bertanggung jawab menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Apa yang akan terjadi dengan peserta didik jika mereka mengkonsumsi pendidikan yang dimodali orang asing? tentu nilai-nilai kebangsaan sendiri akan luntur, pendidikan merupakan amanat konstitusi sehingga negara tidak dapat lepas tangan walaupun demi alasan kemandirian karena pendidikan merupakan masalah sosio kultur.

Fenomena-fenomena itu begitu nyata adanya, dan masa depan pendidikan di negara kita serta masa depan generasi bangsa kita terlihat suram. Seakan di republik ini masa depan sudah menemui ajalnya.

Berangkat dari keresahan juga kemarahan terhadap sistem yang tidak berpihak itulah konsep karya ini terlahir, disini saya tidak akan menampilkan keindahan sebuah estetika visual semata, saya lebih tertarik untuk bergerak lebih dalam untuk mengolah sebuah gagasan kemudian menampilkanya dengan perspective yang berbeda, sebuah perspective dan tampilan visual yang bisa memberikan teror visual kepada audience yang diharapkan bisa memberikan semacam shock therapy kepada kita untuk kembali merenungi sebuah permasalahan yang sedang terjadi, mengajak kita semua untuk sedikit peduli dengan identitas dan situasi indonesia hari ini.

Sunday, January 4, 2009

FEAR

Posted by budakdigital

merah…kuning…oranye…hijau…biru…ungu…violet…jingga…
coklat…abu-abu…hitam…dan aku smakin ketakutan…

MORNING

Posted by budakdigital

Pagi yang seperti biasanya, sinar matahari masuk melalui sela-sela jendela yang belum terbuka dengan intensitas yang sama tanpa terkorup sedikitpun setelah menempuh perjalanan 93.000.000 mil, perlahan sinarnya mulai merayapi juga menerangi ruangan ini, entah sudah berapa lama mereka melakukan perjalanan dari energi asalnya yang katanya dengan kecepatan 300km/detik, sungguh sebuah kecepatan yang belum bisa tertandingi oleh teknologi makhluk bumi. Mungkin ketika suatu saat teknologi itu sudah ada perjalanan menembus ruang dan waktupun bukan hanya sekedar imajinasi.

Samar terdengar sebuah iklan dari sebuah vendor telepon seluler yang menawarkan teknologi komunikasi dari generasi ketiga dengan provokatif menyebutkan berbagai macam aplikasi terbaru, tercanggih, tercepat untuk membuat kehidupan menjadi semakin mudah dan menyenangkan tentunya dengan bandrol harga yang fantastis, disusul iklan pemutih wajah yang hanya dalam enam minggu dapat membuat para pemakainya seputih putri salju kemudian iklan pengharum pakaian yang bisa menghaluskan juga melindungi warna dan membuat pemakainya serasa berada dalam kesegaran taman lavender. Lagi-lagi sebuah kebohongan…kalau tidak mau dikatakan sebagai penipuan…penuh konspirasi gurita-gurita kapitalis seakan tanpa rekayasa terbungkus aroma yang meninabobokkan, gemerlap, soft, indah dan tentu saja glamour.

Bedebah…mereka semua mengepung, menyergap, menyerangku…membombardir syaraf-syaraf otakku mencoba memporak-porandakan akal sehatku, mengacaukan retina mataku, menggempur telingaku dengan berbagai bujuk rayu…dua puluh empat jam non stop…seribu empat ratus empat puluh menit...delapan puluh enam ribu empat ratus detik tanpa henti…ANJING…!!!